WhatsApp Channel Banner

Fandis Nggarang Kritik Keras soal “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang Dalam Kongres PMKRI

waktu baca 3 menit
Kamis, 23 Jul 2026 08:25 0 168 Times NTT

Ruteng, Timesntt.com– Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas resmi dibuka di Aula Assumpta Ruteng, Kabupaten Manggarai, Senin (20/7/2026). Di tengah gegap gempita pertemuan nasional yang dihadiri cabang-cabang dari seluruh Indonesia ini, sebuah kritik tajam dan menohok disuarakan terkait dinamika internal perhimpunan.

 

Fandis Nggarang, mantan Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2016–2018 menyoroti tajam praktik cawe-cawe dan orientasi politik uang (money oriented) yang dinilainya telah mengerdilkan politik gagasan dalam perhelatan rutin dua tahunan tersebut.

 

*Ancaman “Kanibalisme” dan Penyimpangan dari Tiga Benang Merah*

 

Kandidat Doktor Linguistik dari Universität zu Köln, Jerman ini mengingatkan bahwa intervensi pihak luar—khususnya oknum alumni dalam perhelatan Kongres—telah memaksa organisasi bekerja di luar batas nilai dasarnya, yakni Tiga Benang Merah.

 

“Yang saya yakini, bahwa cawe-cawe tidak lain adalah money oriented, yang mengerdilkan politik gagasan. Aksi-aksi seperti ini memaksa PMKRI untuk menjadi forum yang tidak bekerja sesuai DNA-nya,” tegas Fandis dalam catatan kritisnya, bertepatan dengan dimulainya forum nasional di Ruteng.

Baca Juga  Pemkot Kupang Kumpulkan Rp 8,6 Miliar saat Pekan Panutan Panutan Pajak

 

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah spesies yang dipaksa menerima unsur asing, berujung pada kloning yang gagal. Lebih parahnya, menurut Fandis, situasi ini memicu semacam “kanibalisme” di mana sesama kader saling menjatuhkan demi kepentingan finansial dan kekuasaan jangka pendek.

 

*Dari “Haus Ilmu” hingga Aktivisme Baliho dan Canva*

 

Fandis menegaskan kembali bahwa domain utama PMKRI adalah mahasiswa. Oleh karena itu, logika dasar yang harus dikedepankan adalah haus akan ilmu pengetahuan, bukan haus akan uang. Ia meminta siapa pun yang bukan lagi berstatus mahasiswa untuk tidak mendominasi atau mengintervensi ranah internal perhimpunan.

 

Ia juga mengkritik keras budaya aktivisme internal yang dinilainya terjebak pada sloganisme dan formalitas visual tanpa eksekusi nyata di masyarakat:

Pertama, Surplus Jargon, Minim Tindakan: Narasi tentang “transformasi”, “arah gerak”, hingga “momentum perubahan” dinilai hanya berhenti sebagai kata-kata tanpa diskusi mendalam dan realisasi nyata.

Kedua, Aktivisme Kosmetik: Pergerakan mahasiswa dinilai mengalami reduksi karena lebih fokus pada pembuatan flyer Canva, twibbon, serta baliho dengan foto kepalan tangan yang sekadar diposting di media sosial.

 

*Biaya Kontestasi Miliaran dan Bahaya Feodalisme di Kongres*

 

Menyoroti kontestasi kepemimpinan nasional yang berlangsung dalam Kongres XXXIV di Ruteng, Fandis mempertanyakan relevansi dan integritas calon pemimpin jika arena adu gagasan berubah menjadi adu modal.

 

Baca Juga  DPRD NTT Sebut Sosialisasi BANK NTT dan Golkar Ikut Libatkan Peserta dari Partai Lain

Ia menilai bahwa PMKRI berisiko mengalami kemunduran pasca-MPA dan semakin tidak relevan bagi generasi muda saat ini yang hidup dalam kultur egaliter, karena praktik organisasi yang justru semakin feodal.

 

“Perubahan seperti apa yang kau harapkan dari pemimpin yang mesti siap ratusan juta (untuk tidak mengatakan miliaran) rupiah untuk bisa dianggap ‘pantas’ berkontestasi di Kongres? Kita akan semakin terisolasi dari aktivisme yang jujur karena urat nadi gerakan dibangun dari tipu-tapu,” urainya.

 

*Pesan Menohok untuk Oknum Alumni di Arena Ruteng*

Menutup kritiknya, Fandis memberikan pesan pedas yang ditujukan langsung kepada para oknum alumni yang hadir di Ruteng dan mencoba mengorkestrasi politik uang dalam arena Kongres dan MPA kali ini.

 

“Terhadap alumni siapa pun yang mengorkestrasi politik uang: Anda tidak lebih dari gelandangan politik. Anda boleh masuk Ruteng dan menganggap diri penting, nyatanya tidak. Kembali urus karirmu sendiri… Jangan ajarin adik-adik untuk menjilat balik,” pungkas Fandis.

 

Kritik terbuka ini menjadi pemantik pembicaraan hangat di sela-sela pembukaan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI di Aula Assumpta Ruteng. Pernyataan ini sekaligus menjadi penanda dan pengingat bagi para peserta penuh dari seluruh cabang agar menjadikan arena Kongres di Nuca Lale (Manggarai) ini sebagai panggung rekonsiliasi gagasan, bukan panggung transaksi politik uang.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten apapun tanpa seizin redaksi TIMES NTT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!