Tambolaka, TIMESNTT.COM — Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menggelar rapat koordinasi intensif terkait percepatan dan evaluasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Aula Kantor Bupati, Senin (—/—/2025). Rapat dipimpin langsung oleh Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu B. Wulla, ST, dan dihadiri jajaran perangkat daerah, perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta sejumlah mitra pelaksana program.
Dalam arahannya, Bupati Ratu Wulla menegaskan bahwa kualitas dan keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG, terutama setelah muncul laporan insiden keracunan di beberapa sekolah.
“Program MBG adalah komitmen kita untuk menciptakan generasi Sumba Barat Daya yang sehat dan cerdas, bebas dari stunting. Tidak ada kompromi terhadap kualitas pangan. Pengawasan dari hulu ke hilir harus diperkuat,” tegas Bupati.
Salah satu isu mendasar yang mengemuka dalam rakor adalah keterbatasan infrastruktur dapur. Kepala SPPG melaporkan bahwa dapur sentral yang tersedia saat ini masih sangat sedikit, padahal jumlah penerima manfaat terus meningkat. Menanggapi hal itu, Bupati langsung menginstruksikan percepatan pembangunan dan aktivasi dapur baru di seluruh wilayah.
Bupati menargetkan 40 hingga 50 dapur baru agar seluruh kecamatan dan desa penerima program dapat terjangkau secara merata. Upaya ini dinilai sebagai langkah penting untuk memastikan keberlanjutan distribusi makanan bergizi yang aman dan tepat waktu.
Rakor juga menyoroti tantangan logistik, terutama ketersediaan bahan pangan segar yang sebagian besar masih harus didatangkan dari luar Sumba. Bupati meminta dinas terkait untuk mengoptimalkan potensi produk lokal agar program MBG juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kita harus memastikan program ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi harus segera mendata dan melatih kelompok tani lokal agar mereka mampu menjadi pemasok utama bahan baku MBG. Kita dukung ketahanan pangan dari desa,” perintahnya.
Meski terdapat sejumlah kendala, evaluasi awal menunjukkan dampak positif dari pelaksanaan program MBG. Di beberapa sekolah, seperti SD Katolik Wee Pangali, tingkat kehadiran siswa meningkat signifikan. Bahkan, program MBG disebut menjadi motivasi utama bagi sebagian siswa untuk datang ke sekolah.
Rakor ditutup dengan penyusunan rencana aksi bersama guna mengatasi hambatan logistik dan infrastruktur, serta memastikan Program MBG di SBD dapat berjalan secara aman, tepat sasaran, dan berkelanjutan.***
| Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten apapun tanpa seizin redaksi TIMES NTT. |
|
Tidak ada komentar