Membangun Desa Menata Kota – Dari Janji ke Aksi Nyata
MATAHARI baru saja terbit di balik perbukitan hijau Manola ketika bunyi gong pertama memecah keheningan pagi. Kabut tipis yang menyelimuti kampung adat itu perlahan terangkat, memperlihatkan kembali siluet rumah-rumah adat berarsitektur megah dengan menara atap tinggi menjulang, seolah menyentuh langit. Di bawahnya, ratusan masyarakat adat, tokoh budaya, anak-anak, kaum perempuan penenun, dan tamu kehormatan berdiri dengan perasaan haru hari itu, Manola resmi bangkit.

Namun kebangkitan ini bukan terjadi begitu saja. Di balik keberhasilan membangun kembali ruang budaya yang sempat luluh lantak, berdiri sosok pemimpin perempuan yang dalam beberapa tahun terakhir tampil berbeda dari kepala daerah pada umumnya. Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, ST, menjadi figur sentral yang tidak hanya hadir dalam acara seremonial kebudayaan, tetapi terjun langsung memulihkan kembali identitas masyarakat adat Manola setelah tragedi besar melanda kampung tersebut.
Tragedi yang Mengubah Segalanya
Masih lekat dalam ingatan masyarakat ketika kobaran api mengamuk dan membakar 18 rumah adat Manola. Siang itu, angin kencang, struktur kayu kering, serta atap jerami yang mudah terbakar menjadi kombinasi mematikan. Warga hanya bisa berteriak dan menangis saat simbol sejarah dan identitas mereka berubah menjadi abu.
Bagi sebagian masyarakat luar, kebakaran rumah adat mungkin dipandang sebagai kehilangan material. Tetapi bagi orang Sumba, rumah adat bukan sekadar bangunan. Ia adalah pusat kehidupan komunal, ruang spiritual, tempat berlangsungnya ritual adat, penyimpanan benda-benda sakral, pusat pengetahuan leluhur, hingga simbol status dan identitas keluarga besar.
Ketika rumah adat hilang, yang hilang bukan hanya kayu, bambu, dan jerami. Yang hancur adalah identitas sosial, struktur adat, ruang spiritual, jejak sejarah, ruang berkumpul, sistem pewarisan nilai budaya. Siang itu, masyarakat Manola kehilangan hati dan jiwa mereka.

Munculnya Figur Penyelamat Budaya
Di tengah keputusasaan itu, muncul perhatian luar biasa dari Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla. Banyak pihak menyebut bahwa sejak hari pertama setelah kebakaran, Bupati Ratu sudah menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan membiarkan Manola berjalan sendiri.
Dalam sambutannya pada pembukaan Festival Budaya Manola 2025, Bupati menyampaikan dengan suara penuh tekad.
“Rumah adat ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang hidup, ruang spiritual, ruang pengetahuan, dan ruang ekologis yang menjaga kesinambungan tradisi antar generasi.”
Pernyataan ini bukan hanya retorika.
Di bawah kepemimpinannya, Pemkab Sumba Barat Daya menggerakkan berbagai instrumen pemerintah, menggandeng kementerian, organisasi budaya, akademisi, dan masyarakat adat untuk memastikan rumah adat Manola dibangun kembali.
Revitalisasi Rumah Adat: Tonggak Kebangkitan Manola

Hari ini, lima rumah adat telah berdiri kembali dengan megah, hasil kerja bersama antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dan Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.
Proses revitalisasi ini tidak sederhana. Ia melibatkan penelitian arsitektur tradisional, seleksi kayu dan material adat yang sesuai, keterlibatan tokoh adat dalam setiap tahap konstruksi, ritual adat sebelum pembangunan dimulai, pelatihan tenaga lokal agar mampu membangun sesuai pakem arsitektur Sumba.
Bupati Ratu menjadi motor penggerak utama, memastikan bahwa revitalisasi tidak menyimpang dari nilai budaya yang harus dijaga.
Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc, memberikan apresiasi mendalam terhadap kepemimpinan Bupati.
Dalam sambutannya, ia menegaskan.
“Hilangnya rumah adat tidak hanya berarti rusaknya bangunan fisik, tetapi juga hilangnya identitas, terganggunya fungsi sosial dan pengetahuan lokal. Revitalisasi ini adalah langkah awal pemulihan dan penguatan masyarakat adat.”

Peran Visioner Bupati: Tidak Hanya Membangun, Tetapi Menghidupkan Kembali
Tidak banyak kepala daerah yang memahami bahwa revitalisasi budaya tidak berhenti di pembangunan fisik. Banyak proyek serupa di wilayah lain berakhir sebagai monumen mati bangunan berdiri megah tetapi tidak lagi menjadi ruang hidup masyarakat adat.
Berbeda dengan Manola.
Bupati Ratu memandang revitalisasi budaya sebagai proses menghidupkan kembali sistem sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat. Karena itu, festival budaya ini tidak hanya meresmikan rumah adat yang dibangun kembali, tetapi juga menghadirkan berbagai aktivitas budaya yang kembali mengisi ruang-ruang tersebut.
Rangkaian kegiatan festival meliputi, ritual adat peresmian rumah adat, diskusi publik mengenai arsitektur tradisional, workshop pewarna alam bersama WARLAMI, pertunjukan seni tradisional, pameran foto dokumentasi pembangunan, penyajian pangan lokal.
Setiap kegiatan dirancang untuk menghubungkan kembali masyarakat dengan ruang budaya mereka.
Pujian Publik dan Pengakuan Nasional
Kementerian Kebudayaan menilai upaya Pemkab SBD sebagai salah satu contoh terbaik pemajuan budaya berbasis komunitas di Indonesia.
Direktur Kebudayaan menyampaikan.
“Revitalisasi rumah adat Manola membuka ruang dialog antara masyarakat adat dan pemerintah daerah untuk pengembangan program kebudayaan ke depan. Ini adalah model sinergi yang harus dikembangkan nasional.”
Banyak pihak menilai bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan personal Bupati yang dikenal dekat dengan masyarakat adat.
Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat yang memimpin dari atas, tetapi turun langsung, duduk bersama para tua adat, terlibat dalam diskusi, dan mendengar berbagai aspirasi masyarakat Manola mengenai masa depan kampung mereka.
Manola dan Identitas Orang Sumba

Bagi masyarakat adat Sumba, rumah adat adalah simbol keutuhan identitas. Ketika satu rumah adat hancur, maka yang terganggu bukan hanya satu keluarga, tetapi seluruh struktur adat dalam kampung.
Rumah adat menjadi representasi dari: hubungan manusia dengan leluhur, kesakralan ritual, sistem pengetahuan tradisional, struktur sosial keluarga besar (kabisu), tata ruang spiritual.
Karena itu, revitalisasi rumah adat adalah revitalisasi identitas.
Festival Budaya Manola menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali jati diri masyarakat Sumba Barat Daya.
Bupati sebagai Penjaga Peradaban
Dalam berbagai kesempatan, masyarakat Manola menyebut Bupati Ratu sebagai “penjaga peradaban.” Julukan ini muncul karena keberaniannya menempatkan budaya sebagai pondasi pembangunan daerah.
Paulus Tanggu Bera, Salah satu tokoh adat mengatakan:
“Kalau tidak ada ibu Bupati, mungkin rumah adat ini tinggal cerita. Beliau tidak hanya bangun rumah, tetapi kembalikan roh kampung ini.”
Pandangan serupa juga muncul dari pemerhati budaya, Pater Robert Ra Mone, yang melihat bahwa langkah Bupati merupakan terobosan besar dalam penyelamatan warisan budaya Sumba.
Visi Besar: 20 Rumah Adat pada 2026

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan komitmen besar pemerintah:
“Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya akan melanjutkan revitalisasi rumah adat Manola melalui pengajuan pembangunan 20 rumah adat pada tahun 2026.”
Langkah ini menjadikan Manola sebagai salah satu kampung adat yang memiliki program revitalisasi terbesar di Indonesia.
Tidak banyak pemimpin yang mampu bertahan ketika badai datang bertubi-tubi. Manola adalah ujian sejarah; kobaran api yang menghanguskan rumah adat bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan pukulan psikologis bagi masyarakat adat Wewewa dan Sumba pada umumnya.
Di tengah keputusasaan kolektif itu, muncul figur yang menjadi jangkar harapan: Ratu Ngadu Bonnu Wulla, perempuan pertama yang memimpin Sumba Barat Daya dan menjadikan pelestarian budaya sebagai fondasi
pembangunan daerah.
Ketika banyak pihak berpendapat bahwa masa depan harus diarahkan pada industrialisasi dan pembangunan fisik semata, Bupati memilih jalur yang lebih fundamental menguatkan identitas dan akar budaya sebagai pondasi kemajuan.
Dalam satu kesempatan pertemuan adat pasca tragedi, Paulus Tanggu Bera seorang tokoh masyarakat tua berkata dengan mata berkaca-kaca:
“Kalau bukan Bupati yang datang dan mengangkat kepala kami kembali, mungkin Manola tinggal nama.”
Ucapan itu bukan basa-basi. Kehadiran pemimpin pada momen kritis memiliki kekuatan restoratif yang tidak bisa digantikan anggaran atau proyek. Dan itulah yang dilakukan Bupati. Ia hadir. Ia berdiri bersama masyarakat. Ia bersuara ketika banyak yang terdiam.
Keputusan Berani: Prioritas Anggaran untuk Budaya
Dalam kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami pengetatan akibat efisiensi anggaran nasional dan penurunan transfer daerah, keputusan mengalokasikan sumber daya untuk revitalisasi budaya bukanlah pilihan yang mudah.
Namun Bupati mengambil langkah berani.
Ia menginstruksikan perangkat daerah untuk: memetakan ulang potensi budaya prioritas, memasukkan revitalisasi rumah adat sebagai program strategis daerah, mengintegrasikan budaya dengan sektor pariwisata unggulan, membuka akses pembiayaan melalui kolaborasi pusat–daerah–komunitas.
Keputusan ini sempat menuai pertanyaan dari sebagian kalangan yang menilai bahwa anggaran tersebut lebih baik diarahkan pada infrastruktur fisik.
Namun Bupati menjawab dengan tegas dalam sebuah forum resmi:
“Jembatan bisa dibangun kapan saja ketika dana tersedia. Tetapi ketika budaya kita hilang, tidak ada satu pun dana yang bisa mengembalikannya. Identitas adalah fondasi pembangunan kita.”
Pernyataan itu menjadi tonggak retorika pembangunan budaya di SBD.

Dukungan Pemerintah Pusat: Bukti Kepercayaan Nasional
Keberanian dan konsistensi Bupati dalam memperjuangkan budaya lokal membuahkan hasil besar.
Direktorat Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, menjadikan Kabupaten Sumba Barat Daya sebagai salah satu daerah prioritas dalam program revitalisasi budaya.
Festival Budaya Manola 2025 bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi wujud nyata sinergi pusat dan daerah yang terbangun karena kepercayaan terhadap kepemimpinan Bupati.
Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan dalam sambutannya menegaskan.
“Kami melihat komitmen luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya di bawah kepemimpinan Ibu Bupati. Tidak banyak daerah yang menempatkan budaya sebagai prioritas strategis. Itu sebabnya kami hadir dan memberikan dukungan penuh.”
Dukungan itu bukan hanya dalam bentuk pendanaan revitalisasi rumah adat, tetapi juga: penyediaan panggung festival nasional, fasilitasi jaringan kuratorial seni, pendampingan pengembangan ekonomi budaya, promosi melalui jaringan kebudayaan nasional.
|
Stop Copas!!
Tidak ada komentar