WhatsApp Channel Banner

Masih Impor Sayur dari Luar, di Ende Gubernur Melki Ajak Warga Beli Produk Lokal

waktu baca 3 menit
Minggu, 19 Apr 2026 11:46 100 Times NTT

 Ende, Timesntt.com -Saat melakukan kunjungan kerja ke Ende, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, meluncurkan NTT Mart by One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 2 Ende, Minggu (19/4/2026).

 

Gubenrur Melki juga meluncurkan Dapur Flobamorata di SMKN 1 Ende, kedua sekolah tersebut berada dalam satu kawasan dan berdekatan, hanya dipisahkan oleh pagar. Ia menekankan pentingnya hilirisasi hasil produksi sekolah melalui pengolahan yang bernilai tambah, sehingga tidak lagi berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi berlanjut hingga tahap tanam, panen, olah, kemas, dan jual.

 

Dalam arahannya, Gubernur Melki menegaskan tiga pilar utama yang harus berjalan bersamaan dalam pendidikan di NTT, yakni kemampuan akademik, karakter, dan kewirausahaan.

 

Pertama, aspek akademik tetap menjadi dasar yang tidak bisa ditawar. Ia meminta seluruh sekolah memastikan siswa memiliki kemampuan intelektual yang memadai agar dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, sekolah kedinasan, hingga bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

 

“Akademik harus bagus. Itu tugas sekolah. Kita siapkan guru, sarana, buku, supaya anak-anak bisa bersaing masuk universitas, sekolah kedinasan, bahkan ke luar negeri,” ujarnya.

Baca Juga  Bank NTT siapkan Pembayaran Digital untuk Dukung NTT Mart

 

Namun, Melki menegaskan, kecerdasan tanpa karakter tidak akan membawa manfaat.

 

“Karakter jauh lebih penting. Banyak orang pintar tapi tidak jadi apa-apa karena karakternya buruk. Sebaliknya, yang karakternya baik bisa berhasil walaupun tidak terlalu pintar,” tegasnya.

 

Ia juga menyinggung pentingnya kegiatan seperti Pramuka sebagai ruang pembentukan karakter, yang menurutnya tidak boleh diabaikan di sekolah.

 

Pilar ketiga, lanjutnya, adalah kewirausahaan. Di sinilah peran NTT Mart dan Dapur Flobamorata menjadi kunci untuk menghubungkan pendidikan dengan realitas ekonomi.

 

“NTT ini defisit dagang Rp51 triliun. Artinya kita lebih banyak beli dari luar daripada produksi sendiri. Ini yang harus kita ubah,” katanya.

 

Untuk itu, Pemprov NTT membangun ekosistem ekonomi berbasis tiga sumber produksi, yakni One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP).

 

Produk dari desa, komunitas, dan sekolah akan dipasarkan melalui NTT Mart, sementara Dapur Flobamorata menjadi pusat pengolahan kuliner lokal agar memiliki nilai tambah.

 

“Semua yang kita produksi harus kita beli sendiri. Jangan hanya jadi penonton. Kita harus jadi pelaku,” ujarnya.

 

Sebagai langkah konkret menciptakan pasar, pemerintah merancang kebijakan belanja ASN minimal Rp100 ribu per bulan untuk produk lokal. Namun kebijakan itu belum diterapkan karena kapasitas produksi dinilai belum mencukupi.

Baca Juga  Gubernur NTT Disarankan Perkuat Koordinasi dengan Pemkot dan Pemkab soal Data Penduduk Miskin

 

“Kalau barang sudah cukup, kebijakan ini pasti jalan. Kalau semua ASN beli, perputaran uang bisa Rp150 sampai Rp200 miliar per bulan,” jelasnya.

 

Melki juga menekankan bahwa sekolah harus menjadi pusat produksi nyata, bukan sekadar tempat belajar teori. Ia mendorong SMK mengembangkan unit usaha sesuai potensi lokal, termasuk pertanian, peternakan, dan pariwisata.

 

“Jangan ajar anak-anak bertani di kelas. Harus di kebun. Jangan ajar beternak di papan tulis. Harus di kandang. Mereka harus tahu berapa hasilnya, berapa untungnya,” tegasnya.

 

Ia bahkan mendorong sekolah memanfaatkan lahan yang ada untuk produksi pangan, termasuk mendukung kebutuhan dapur sekolah maupun program makan bergizi.

 

“Kalau sekolah punya dapur, bahan bakunya harus dari sekolah sendiri. Tanam, pelihara, olah, lalu jual. Uang berputar di sekolah,” katanya.

 

Selain itu, Gubernur juga membuka peluang pengembangan unit usaha lain seperti peternakan skala besar dan penginapan berbasis sekolah, khususnya bagi SMK yang memiliki jurusan pariwisata.

 

“Kalau dikelola serius, sekolah bisa punya usaha sendiri, bahkan jadi pusat ekonomi baru,” ujarnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten apapun tanpa seizin redaksi TIMES NTT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA

    Stop Copas!!