WhatsApp Channel Banner

Menguji Janji VAR dan Realitas Sepak Bola NTT: Antara Terobosan dan Populisme Kampanye

waktu baca 4 menit
Kamis, 15 Okt 2026 02:35 0 52 Times NTT

Kupang, Timesntt.com-Kabar mengenai pendaftaran Fernando Soares sebagai bakal calon Ketua Umum Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2026–2030 membawa angin segar sekaligus menyisakan catatan kritis yang mendalam.

 

Diiringi jajaran tokoh politik dan elite daerah saat mendaftar, Fernando datang membawa sejumlah janji manis, dua di antaranya yang paling menyita perhatian penulis adalah penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) serta peluncuran _platform_ TV Bola NTT.

 

Secara kasat mata, tawaran program tersebut tampak futuristik dan memberikan harapan baru bagi publik sepak bola NTT yang haus akan prestasi dan keadilan di atas lapangan. Namun, jika dibedah secara teknis, organisatoris, dan finansial, narasi program yang diusung patut diuji tingkat realistisnya agar tidak berakhir sebagai komoditas retorika jelang Pemilihan Ketua PSSI NTT semata.

 

Pertama : Mitos VAR di Panggung Sepak Bola Regional. Gagasan menghadirkan VAR sebagai standar kompetisi di NTT adalah poin yang paling problematik dari sudut pandang regulasi dan teknis. Penerapan VAR dalam industri sepak bola bukan sekadar membeli kamera dan memasang layar di pinggir lapangan. FIFA tentu menerapkan standar ketat.

 

Setidaknya ada tiga syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk mengoperasikan VAR seperti; infrastruktur stadio. Apakah saat ini sudah ada stadion di NTT yang memenuhi kualifikasi tersebut secara penuh. Berikutnya, biaya operasional. Perlu diketahui bahwa biaya perangkat VAR dan Video Operation Room (VOR) cuup mahal. Pengadaan ini bahkan menjadi beban finansial besar bagi klub-klub kasta tertinggi nasional (Liga 1), apalagi untuk level kompetisi provinsi seperti Liga 3/4 atau El Tari Memorial Cup (ETMC). Terkahir, lisensi wasit pengawas VAR itu harus mengikuti pelatihan khusus berbulan-bulan yang disertifikasi oleh FIFA.

Baca Juga  Merawat Marwah PKB

 

Menjanjikan VAR untuk skala kompetisi daerah pada saat ini terkesan kurang mengakar pada realitas dasar. Fokus utama Asprov PSSI NTT seharusnya bukanlah teknologi mahal, melainkan peningkatan kualitas dasar wasit lokal, mulai dari lisensi C3, C2, hingga C1 serta jaminan perlindungan dan integritas bagi perangkat pertandingan dari intervensi atau ancaman fisik.

 

Kedua, TV Bola NTT dan jebakan talent scouting Pasif. Gagasan membangun platform TV Bola NTT sebagai sarana publikasi dan _talent scouting_ patut diapresiasi dari sisi transparansi dan digitalisasi. Tayangan _live streaming_ dapat memberikan panggung bagi anak-anak muda NTT agar bakat mereka dapat dipantau oleh pemandu bakat tingkat nasional.

 

Namun, mengaitkan secara langsung platform TV sebagai sarana talent scouting menyimpan kelemahan metodologis dalam pembinaan olahraga.  Talent scouting sepak bola modern tidak bisa hanya mengandalkan rekaman kamera. Proses pemantauan bakat membutuhkan pemandu bakat (scout) yang bersertifikasi, instrumen analisis fisik dan taktik, serta pemantauan langsung di lapangan hingga ke pelosok pelosok kabupaten.

Baca Juga  Nagekeo Tidak Kekurangan Proyek, Tapi Kekurangan Keadilan

 

Media penyiaran adalah sarana promosi dan komersialisasi, bukan pengganti sistem pembinaan usia muda (grassroots development) yang terstruktur. Jangan sampai TV Bola NTT hanya menjadi etalase tanpa diikuti oleh pembenahan Kurikulum Pembinaan Sepak Bola Indonesia (Filanesia) di level daerah.

 

Ketiga, bayang-bayang politisasi. Kehadiran jajaran pejabat publik dan elite politik daerah saat pendaftaran menimbulkan pertanyaan klasik: Apakah kepengurusan PSSI NTT mendatang akan tetap independen sesuai Statuta FIFA/PSSI, ataukah sepak bola kembali dijadikan panggung konsolidasi politik praktis?”

 

Sepak bola Nusa Tenggara Timur tidak kekurangan bakat alamiah. Dari bumi Flobamora, selalu lahir pemain-pemain berkarakter tangguh, cepat, dan spartan. Namun yang dibutuhkan NTT hari ini bukanlah lompatan wacana seperti VAR yang serba mewah, melainkan fondasi dasar yang kokoh berupa : kompetisi usia dini (U-13, U-15, U-17) yang rutin dan berkelanjutan tiap tahun, ursus pelatih dan wasit bersertifikasi resmi yang terjangkau bagi putra daerah, dan lapangan latihan yang layak di tiap kabupaten/kota.

 

Para voters dan pecinta sepak bola di NTT diharapkan kritis terhadap slogan atau janji manis dari semua bakal calon. Pemilihan Ketua Asprov PSSI NTT 2026–2030 harus menjadi momentum untuk menagih cetak biru (blueprint)pembinaan sepak bola yang realistis, terukur, dan benar-benar membumi.

 

Penulis : John Lobo: Pegiat Sepak Bola

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!