WhatsApp Channel Banner

Gubernur NTT Paparkan Program Sektor Produktif saat Pidato Pembangunan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 04:02 81 Times NTT

Kupang, Timesntt.com- Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan berbagai program pembangunan dalam pidato Pembangunan, Sabtu 15 Agustus 2026.

Pada sambutannya, Gubernur Melki menjelaskan jika Dasa Cita Pertama merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membangun ekonomi daerah melalui penguatan sektor produktif, terutama pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan produk unggulan berbasis potensi lokal.

Ia menyebut jika pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian NTT.

Yakni  menyerap sekitar 2,3 juta tenaga kerja dan berkontribusi 28,9 persen terhadap PDRB pada tahun 2024. Dengan potensi lahan kering 1,8 juta hektare, NTT memiliki peluang besar menjadi salah satu lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.

Pada tahun 2025,  Nilai Tukar Petani mencapai 101,4. Indeks Ketahanan Pangan 76,2, dan Skor Pola Pangan Harapan 79,3. Sektor ini ditopang 36.678 kelompok tani, sekitar 70 persen masih kelas pemula. 3.167 penyuluh yang melayani 3.442 desa dan kelurahan, serta 11.940 unit alat dan mesin pertanian. Capaian ini memperoleh PIN Emas Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian pada tahun 2025.

“Pada tahun 2026, ditargetkan Pencetakan Sawah Rakyat seluas 4.634,79 hektare untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani,” katanya.

Peternakan, demikian Melki,  juga menjadi kekuatan ekonomi NTT.
Ia menekankan jiak populasi sapi meningkat dari sekitar 582 ribu ekor pada tahun 2023 menjadi lebih dari 778 ribu ekor pada tahun 2026, dan hingga 22 Juli 2026 lebih dan 43 ribu ekor sapi telah dikirim ke luar NTT. Populasi kerbau meningkat dari 66 ribu menjadi hampir 94 ribu ekor, kambing dari 370 ribu menjadi lebih dari 480 ribu ekor, ayam pedaging dari 16,32 juta menjadi 21,24 juta ekor, sementara populasi babi kembali mencapai sekitar 1,09 juta ekor pada tahun 2026.

Baca Juga  Melki Laka Lena Dialog dengan Pengurus Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Timur

“Dalam pengendalian African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan di 22 kabupaten/kota dan mengalokasikan 14.500 dosis vaksin pada tahun 2025. disertai desinfektan, alat uji cepat, dan pendampingan bio sekuriti NTT juga mempertahankan status Bebas Penyakit Mulut dan Kuku dengan nol kasus. Dalam penanganan rabies, kasus gigitan berhasil ditekan 25 persen dalam dua bulan pertama, sementara kematian turun dari 46 jiwa pada tahun 2024 menjadi 30 jiwa pada tahun 2025 dan 8 jiwa hingga pertengahan 2026,” jelasnya.

Sepanjang tahun 2025, vaksinasi menjangkau 299.508 hewan disertai persiapan vaksinasi massal di Pulau Timor, peningkatan kapasitas petugas penyelidikan epidemiologi, dan pemetaan risiko dengan pendekatan One Health. Tata kelola peternakan juga dimodernisasi melalui 10 sistem pelayanan dan informasi veteriner berbasis digital bantuan kambing kepada kelompok tani di seluruh kabupaten/kota, serta hilirisasi produk lokal, termasuk Se’i KIKIKAKA di Desa Bolok.

Sedangkan, di sektor kelautan dan perikanan, produksi perikanan tangkap meningkat dan sekitar 87 ribu ton pada tahun 2024 menjadi hampir 96 ribu ton pada tahun 2025, didukung

Baca Juga  Melki Laka Lena Pastikan Wisata Labuan Bajo Berdampak bagi Warga Lokal

Penangkapan Ikan Terukur. pengaturan kuota dan zona, rantai dingin, serta lebih dari 2.000 unit cool box pada tahun 2026. Produksi budidaya mencapai 18.583 ton pada tahun 2024 dan 18.057 ton pada tahun 2025, sementara hingga triwulan 1-2026 realisasinya mencapai 13,99 persen dari total produksi tahun sebelumnya

Rumput laut tetap menjadi komoditas unggulan dengan produksi 1.248.126 ton pada tahun 2025, didukung pengembangan budidaya, bibit berkualitas, dan industri pengolahan di Kabupaten Kupang dan Sumba Timur, serta pengoperasian kembali fasilitas di Sabu Raijua dan Pulau Semau Produksi garam rakyat juga meningkat dari 15.793 ton pada tahun
2024 menjadi 20.542 ton pada tahun 2025, disertai pengembangan kawasan K-SIGN di Kabupaten Rote Ndao.

Melki menjalankan jika hilirisasi diperkuat melalui One Village One Product (OVOP) dan One Community One Product (OCOP), pelatihan pengolahan, sarana pengemasan dan penyimpanan, serta penguatan UMKM pesisir di Belu, Malaka, dan Flores Timur.

“Inilah arah Dasa Cita Pertama: membangun rantai ekonomi dari hulu hingga hilir, agar hasil ladang, ternak, dan laut NTT tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk bernilai tambah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten apapun tanpa seizin redaksi TIMES NTT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA

    Stop Copas!!