Kupang, Timesntt.com-Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pemerintah mempercepat pemulihan infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi, yang rusak akibat gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026.

 

Ketua DPD HKTI NTT, Fernando J. Osorio Soares, menyampaikan aspirasi tersebut saat menghadiri agenda organisasi HKTI yang turut dihadiri Ketua Umum BPN HKTI, Sudaryono, yang juga menjabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

 

Fernando mengatakan HKTI NTT merasa bangga atas kehadiran Ketua Umum HKTI di NTT sekaligus berharap kunjungan tersebut dapat memperkuat perhatian terhadap persoalan petani di daerah.

 

“Kami DPD HKTI NTT merasa bangga dan merasa terhormat dengan kedatangan Ketua Umum HKTI,” ujar Fernando.

 

Menurut dia, dampak gempa Flores tidak hanya dirasakan masyarakat dari sisi permukiman dan fasilitas umum, tetapi juga terhadap sektor pertanian. Sejumlah infrastruktur pendukung pertanian, termasuk jaringan irigasi, mengalami kerusakan.

Baca Juga  Dugaan Penyuapan Oknum Pegawai di MA oleh Izak Rihi Terkuak, Transfer Sebanyak 15 Kali,  Nominal 850 juta

 

Karena itu, Fernando meminta Ketua Umum HKTI dapat meneruskan kondisi tersebut kepada Menteri Pertanian sehingga pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap pemulihan infrastruktur pertanian di wilayah terdampak.

 

“Banyak irigasi yang rusak akibat gempa bumi di Flores. Kami mohon Ketua Umum untuk disampaikan kepada Menteri Pertanian,” katanya.

 

Selain pemulihan infrastruktur, HKTI NTT juga mendorong penguatan dukungan terhadap petani melalui penyediaan sarana produksi pertanian.

 

Fernando menyebut HKTI turut membagikan sejumlah bantuan kepada masyarakat, antara lain mesin air, sumur bor, benih dan bibit.

 

“Mesin air, sumur bor, benih dan bibit yang kami bagikan kepada seluruh masyarakat NTT,” ujarnya.

 

Dorong Hasil Pertanian Lokal Masuk Program MBG

 

Fernando juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai dapat menjadi salah satu pasar bagi hasil pertanian petani lokal.

 

Ia berharap anggaran program tersebut dapat memberikan manfaat langsung kepada petani NTT dengan mengutamakan pemanfaatan bahan pangan yang diproduksi masyarakat setempat.

Baca Juga  SOKSI NTT Bawa Isu Ekonomi Rakyat dan Budaya Lokal ke Panggung Nasional

 

“Program MBG menjadi ujung tombak bagi petani. Kami ingin anggaran ini langsung dinikmati oleh petani-petani NTT. Tentu bisa meningkatkan hidup petani kami,” tegas Fernando.

 

Menurutnya, keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok MBG dapat membantu menciptakan pasar bagi hasil produksi pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

 

Saat ini, kepengurusan HKTI telah terbentuk di 21 kabupaten dan satu kota di NTT. Kondisi tersebut menjadi modal organisasi untuk memperkuat pendampingan dan penyampaian aspirasi petani di berbagai daerah.

 

HKTI NTT berharap sinergi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat, terutama dalam pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak gempa serta peningkatan kesejahteraan petani melalui akses pasar dan dukungan sarana produksi.*