WhatsApp Channel Banner

Pekerja Bangunan di Liliba Dilaporkan ke Polisi  Buntut Masalah Pagar

waktu baca 3 menit
Jumat, 3 Jul 2026 11:52 59 Times NTT

Kupang, Timesntt.com– Sebanyak  dua orang diduga telah melakukan pengeroyokan terhadap staf dan Seorang Pendeta di Gereja C3 (Christian City Crush)  Pemulihan yang beralamat di Jalan Piet A. Tallo, Kota Kupang.

Kejadian ini, bermula dari masalah dugaan  pengerusakan pagar milik Gereja Pemulihan C3.
Pendeta Johandry Lanoe, pada Kamis 02 Juli 2026 menjelaskan jika kejadian bermula dari kerusakan pagar yang diklaimnya sebagai milik Gereja pada Tanggal 24 Juni 2026.

Menurutnya sekitar Pukul 8.30 WITA dirinya mendapat laporan dari security jika pagar gereja roboh.
“Pagar kurang lebih sepanjang 10 sampai 15 meter itu rubuh ke arah halaman gereja, bersebelahan dengan ruko,” kata Pendeta Johandry.

Kemudian ia pergii untuk bertanya kepada tukang yang sementara bekerja.

“Sekitar jam 9 saat saya masuk kantor saya langsung pergi kebetulan ada tukang yang mau bersihkan. Tembok yang roboh itu masuknya ke halaman gereja.  Tukang itu beritahu jika pas masuk mobil jadinya roboh dan berjanji mau perbaiki,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, menurut Pendeta Johandry pihaknya meminta tukang bertanggung jawab atas robohnya pagar gereja.

“Kami hanya minta segera dikerjakan supaya keamanan gereja terjamin. Soalnya kami takut barang hilang. Besoknya pagi kami lihat tidak ada progres. Esok sore mau pelayanan. Saat siang kami liat tidak ada perbaikan,”

“Oleh karena itu saya dengan staf gereja pergi untuk konfirmasi. Informasi dari tukang kalau mereka sementara memasang tiang coran. Kami tanya besi yang mana ternyata mereka tunjukan besi yang sedang mengerjakan ruko bukan untuk pagar,”tambahnya.
Setelahnya pihaknya meminta untuk  bertemu secara langsung dengan penanggung jawab dalam pekerjaan ruko berbatasan dengan tanah gereja.

Baca Juga  Indrawati Haru Bahagia dapat Kursi Roda dari Wali Kota Kupang

“Saya minta bertemu dengan kontraktor mereka arahkan ketemu dengan yang bernama Mas Nanang. Saya bertemu lalu saya minta pertanggungjawaban,” katanya.

Pendeta Johandry menjelaskan jika kejadian dugaan pengerusakan itu merupakan kali kedua.

“Alasan saya marah karena ini pengalaman kedua. Yang pertama itu diawal tahun 2026 saat itu mereka mengerjakan ruko dan meminta ijin untuk memasang saf holding. Perjanjiannya stelah dikerjakan bersihkan yang kotor dan perbaiki yang rusak. Ternyata bukan hanya rusak tapi sink gereja jebol,”

“Di bulan Januari itu hujan jadi kita di gereja alami kebocoran. Kami minta untuk bertanggungjawab untuk perbaikan sink sampai dua bulan tidak ada perbaikan,” pungkasnya.

Karena tidak kunjung diperbaiki, Jemaat dan bapa gembala berinisiatif untuk membeli dan perbaiki.

“Ini yang kedua, dari kontraktor alihkan ke Pak Simon dari beliau kemudian ke kontraktor saya di pingpong,” katanya.

Menurutnya usai kejadian itu pada esok 25/06 siang Istri dari Simon Dima menemui pihaknya di gereja.

“Istri Pak Simon kemudian datang dengan tiga staf laki laki. Dia menyampaikan bahwa itu pagar mereka. Saya bilang itu menurut ibu saya bilang kami gereja, gembala dan jemaat membeli tanah ini sekalian dengan pagarnya. Kami merasa ini pagar gereja. Setelah diskusi kami dapat titik temu. Ibu bilang segera bangun supaya pagar tertutup,” pungkasnya.
Usai pertemuan tersebut tiga staf yang bersama dengan wanita tersebut diduga melakukan penganiayaan terhadap staf gereja.

Baca Juga  Wali Kota Kupang Terima Penghargaan dari Menteri Hukum RI

“Nah, saat keluar stafnya itu bertemu dengan staf gereja yang baru saja pulang antar istrinya. Staf gereja tanya ada apa. Mereka tidak terima suara tinggi dan satu langsung dorong dan satu cekik.  Kami lalu keluar dan tahan mereka. Mereka pukul staf gereja karena saya tahan temanya tidak terima lalu pukul saya,”jelasnya.

Atas kejadian tersebut, pihak gereja kemudian bersepakat untuk membuat laporan di Polresta Kupang Kota.

Laporan polisi bernomor STTL/B/725/VI/2026/SPKT/Polresta Kupang Kota dibuat pada  Kamis 26 Juni dengan korban  bernama Piet Rihi dan Gembala Gereja.

Media ini sudah bertemu dengan Simon Dima bersama istrinya di ruko miliknya di lokasi kejadian.
Ia memilih untuk tidak memberikan komentar.
“Saya sudah suruh staf saya untuk bertemu dan bicarakan masalah ini baik-baik,” kata Simon sambil menyebut tidak ingin memberikan klarifikasi.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten apapun tanpa seizin redaksi TIMES NTT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA

    Stop Copas!!