Gubenrur dan Ketua TP PKK NTT/foto: istJakarta, Timesntt.com-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa kain tenun NTT bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan simbol identitas budaya, kekuatan ekonomi keluarga, dan kekayaan intelektual yang harus dijaga serta diwariskan dari generasi ke generasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri pembukaan pameran “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Yayasan Uma Nusantara itu turut dihadiri Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Ketua TP PKK NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena, serta Ketua Panitia sekaligus Pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menekankan peran strategis perempuan NTT dalam menggerakkan perekonomian daerah melalui aktivitas menenun, pengembangan pangan lokal, dan berbagai usaha berbasis komunitas.
“Perempuan NTT memiliki peran besar dalam mendukung ekonomi keluarga. Salah satu contohnya adalah kain tenun yang dibuat oleh mama-mama NTT. Tenun harus terus dijaga dan dilestarikan kepada setiap generasi karena merupakan simbol budaya NTT yang juga memiliki nilai ekonomi. Ini adalah kekayaan intelektual para pengrajin tenun di NTT,” ujarnya.
Menurut Melki, proses pembuatan tenun membutuhkan kesabaran, keterampilan, dan dedikasi tinggi. Karena itu, setiap lembar kain tenun tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung cerita, filosofi, serta kearifan lokal masyarakat NTT.
“Di balik selembar kain tenun NTT, ada cerita tentang ketekunan, perjuangan, dan harapan. Ada tangan-tangan perempuan yang sejak pagi membantu suami di kebun, mengurus keluarga, lalu kembali duduk menenun hingga malam. Dari benang-benang itulah lahir kekuatan ekonomi keluarga dan identitas budaya NTT,” katanya.
Pameran Weaving Wonders menampilkan beragam kekayaan tenun, kuliner lokal, dan rumah adat khas NTT. Selain pameran, kegiatan ini juga menghadirkan lokakarya dan dialog yang mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, masyarakat adat, investor, serta lembaga donor.
Pendiri Yayasan Uma Nusantara, Yori Antar, mengatakan pameran tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pameran Weaving Wonders diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi kebijakan dan kemitraan yang mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Yori.
Sementara itu, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menilai berbagai persoalan sosial seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, pekerja anak, perkawinan dini, hingga stunting memiliki keterkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Menurut Veronica, program pemberdayaan seperti Kebun Pangan Perempuan (KPP) dan agroforestri bambu melalui program Mama Bambu menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di NTT.
Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan Survei GoodStats 2024, perempuan NTT memberikan kontribusi sebesar 42,4 persen terhadap pendapatan rumah tangga, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 36,1 persen.
“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” katanya.
Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menambahkan bahwa sebagian besar pengrajin tenun di NTT adalah ibu-ibu yang menjalankan banyak peran sekaligus, mulai dari membantu pekerjaan di ladang, mengurus rumah tangga, hingga menenun untuk menambah penghasilan keluarga.
Karena itu, menurutnya, para perajin tenun perlu mendapat dukungan yang lebih besar melalui pelatihan, pendampingan usaha, dan perluasan akses pemasaran.
“Tenun bukan hanya warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sumber ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga di NTT,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa kiprah perempuan NTT mendapat pengakuan penting pada Mei 2026 melalui penyerahan Surat Keputusan Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan untuk mengelola lahan seluas 648 hektare.
Pameran Weaving Wonders menjadi pengingat bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan perempuan merupakan aset penting yang harus terus dijaga dan dikembangkan sebagai kekuatan keluarga, penggerak ekonomi, sekaligus penopang pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.*
|
Stop Copas!!
Tidak ada komentar