KUPANG, TIMES Nusa Tenggara Timur| Nama Kepala Polda (Kapolda) Nusa Tenggara Timur Inspektur Jenderal Daniel Tahi Monang Silitonga terseret dalam sentimen negatif publik yang merespons hasil seleksi calon taruna Akademi Kepolisian asal daerah itu.
Daniel dianggap ikut bertanggung jawab dalam dugaan praktik nepotisme yang mengeliminasi putra-putri daerah setempat dan memberi ruang bagi peserta titipan dari luar daerah. Ia membantah.
Kepada media ini, Senin (8/7/2024) siang, Daniel memberikan sejumlah klarifikasi terkait proses seleksi taruna Akademi Kepolisian (Akpol) yang mengisi 11 kuota yang ditentukan oleh Markas Besar (Mabes) Polri. Ia pun merinci komposisi 11 orang dimaksud.
”Satu orang asli putra daerah NTT, lima orang putra daerah yang lahir dan besar di NTT, dan lima orang pendatang yang sudah menetap di NTT,” kata Daniel lewat pesan singkat.
Menurut Daniel, seluruh hasil tes langsung ditayangkan dan ditandatangani peserta dan pengawas. Setiap kali setelah pelaksanaan tes, peserta juga dipersilakan mengisi survei kepuasan yang dilakukan secara terbuka. Setiap tahapan diawasi secara ketat oleh pengawas internal dan eksternal.
”Panitia pun tidak bisa mengubah hasil perolehan nilai karena sudah diolah dalam sistem dan peserta pun sudah mengetahui nilai setiap selesai tahapan pendaftaran,” tulis Daniel.
Daniel menjadi sorotan setelah empat orang calon lolos berasal dari satu suku yang sama dengan dirinya. Bahkan, di publik, beredar informasi bahwa salah satu di antaranya adalah anak kandung Daniel. Saat ditanya terkait hal itu, Daniel belum merespons.***
|
Tidak ada komentar