WhatsApp Channel Banner

Kasus DBD di Wilayah Puskesmas Oepoi Menurun, Belum Ada Pasien Meninggal

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 11:03 0 12 Times NTT

KUPANG, Timesntt.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Oepoi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, mengalami penurunan pada 2026. Hingga Oktober tahun ini, jumlah kasus yang tercatat belum mencapai 20 kasus dan belum ada pasien yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

 

Kepala Puskesmas Oepoi, drg. Elfride Ruth, mengatakan penurunan kasus DBD tersebut menjadi perkembangan positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ketika jumlah kasus di wilayah kerja Puskesmas Oepoi masih relatif tinggi.

 

“Kalau untuk tahun ini, memang sudah ada penurunan kasus. Jumlahnya saat ini tidak sampai 20 kasus, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya bisa lebih banyak,” ujar Elfride saat diwawancarai pada Senin, 19 Oktober 2026.

 

Ia menjelaskan, wilayah kerja Puskesmas Oepoi mencakup empat kelurahan. Kasus DBD yang ditemukan pada tahun ini tersebar di beberapa wilayah, tetapi belum ada laporan pasien meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

 

“Puji Tuhan, sampai saat ini tidak ada kasus meninggal. Setelah terjadi penurunan kasus, belum ada juga pasien yang meninggal dunia akibat DBD,” katanya.

Baca Juga  Tekan Risiko Stunting, Puskesmas Oepoi Andalkan Pendampingan Gizi dan 37 Posyandu

 

Meski demikian, Elfride mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, terutama menjelang musim hujan yang berpotensi meningkatkan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue.

 

Menurutnya, penanganan DBD tidak hanya bergantung pada pengobatan pasien, tetapi juga pada upaya pencegahan melalui edukasi dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

 

Puskesmas Oepoi, kata dia, menjalankan fungsi promosi kesehatan dan pencegahan penyakit melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat, termasuk saat pelaksanaan posyandu.

 

Selain itu, edukasi kesehatan juga dilakukan dengan melibatkan mahasiswa yang melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat di lingkungan Puskesmas Oepoi, termasuk kepada pasien dan keluarga yang sedang menunggu pelayanan.

 

“Kami lebih banyak melakukan promosi kesehatan dan upaya preventif, melalui edukasi di posyandu-posyandu. Kadang-kadang juga bersama mahasiswa yang memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” jelasnya.

 

Pemantauan Kasus Melalui Koordinasi dengan Rumah Sakit

 

Elfride menjelaskan, pemantauan kasus DBD juga dilakukan melalui koordinasi antara petugas Puskesmas Oepoi dan rumah sakit.

 

Menurutnya, tidak semua pasien yang mengalami gejala atau dinyatakan positif DBD terlebih dahulu mendapatkan pelayanan di puskesmas. Sebagian pasien langsung mendatangi rumah sakit sehingga diperlukan koordinasi untuk memastikan kasus tersebut tetap terpantau.

 

Untuk mendukung upaya tersebut, petugas yang menangani DBD di Puskesmas Oepoi memiliki grup koordinasi dengan pihak rumah sakit. Melalui grup tersebut, informasi mengenai pasien suspek maupun yang telah dinyatakan positif DBD dapat diteruskan kepada petugas puskesmas.

Baca Juga  KOWANI Puji Langkah Pemkot Kupang Penuhi Kebutuhan Menstruasi Perempuan

 

Setelah menerima informasi mengenai pasien, petugas akan melakukan penyelidikan epidemiologi berdasarkan alamat yang disampaikan rumah sakit.

 

Langkah tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggal pasien sekaligus mendukung upaya pencegahan agar penularan tidak meluas.

 

Elfride menegaskan, koordinasi dan pemantauan tersebut penting untuk memastikan perkembangan kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Oepoi dapat diketahui, termasuk apabila pasien mendapatkan penanganan langsung di rumah sakit.

 

Dengan adanya penurunan kasus sepanjang 2026, Puskesmas Oepoi berharap kondisi tersebut dapat dipertahankan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi kesehatan, serta upaya pencegahan secara berkelanjutan.

 

Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, terutama menjelang musim hujan.

 

Upaya pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air, serta melakukan langkah pencegahan tambahan sesuai kondisi lingkungan.

 

Pencegahan secara rutin dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan risiko peningkatan kasus DBD di Kota Kupang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!