Diklat calon kepala sekolah se Provinsi NTT/foto: timesntt.com KUPANG, Timesntt.com-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai membangun fondasi baru dalam memperkuat kepemimpinan di satuan pendidikan. Sebanyak 158 guru yang diproyeksikan menjadi kepala SMA, SMK dan SLB mengikuti Diklat Bakal Calon Kepala Sekolah se-Provinsi NTT.
Diklat yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTT tersebut berlangsung di Hotel Pelangi, Kupang, sejak 3 hingga 12 Oktober 2026. Kegiatan secara resmi dibuka Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena pada Senin, 5 Oktober 2026.
Turut hadir dalam pembukaan tersebut Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo.
Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, kegiatan ini menjadi langkah penting karena untuk pertama kalinya pelatihan calon kepala sekolah diselenggarakan secara khusus sebagai bagian dari proses sistematis menyiapkan calon pemimpin satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo mengatakan, diklat tersebut diarahkan untuk membentuk calon kepala sekolah yang memiliki visi kepemimpinan, integritas, serta kemampuan mengelola dan mengembangkan satuan pendidikan.
Dengan demikian, kepala sekolah yang nantinya memimpin SMA, SMK maupun SLB tidak hanya dipersiapkan sebagai administrator, tetapi sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan guru, membangun budaya sekolah dan memastikan proses pembelajaran terus berkembang.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memberikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan beserta seluruh jajaran karena kegiatan tersebut untuk pertama kalinya dilaksanakan di NTT.
Menurut Melki, penyiapan calon kepala sekolah merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Ia menilai kualitas guru akan lebih mudah ditingkatkan apabila kualitas kepemimpinan kepala sekolah terlebih dahulu diperkuat.
“Ini penting karena kita menyiapkan kepala sekolah yang akan menjadi pemimpin di sekolah-sekolah,” ujar Melki dalam arahannya.
Karena itu, ia meminta para peserta tidak melihat diklat tersebut hanya sebagai tahapan untuk mendapatkan jabatan kepala sekolah.
Sebaliknya, para peserta harus memandangnya sebagai proses mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan di sekolah masing-masing.
Melki juga mengingatkan agar calon kepala sekolah terlebih dahulu melakukan peningkatan kapasitas diri.
“Kepala sekolah harus upgrade diri sendiri dulu. Menjadi kepala sekolah yang berkualitas,” tegasnya.
Menurut dia, kemampuan akademik dan manajerial memang penting, tetapi kepemimpinan sekolah juga harus dibangun di atas ketulusan, kejujuran dan nilai-nilai positif.
Ia berharap para calon kepala sekolah nantinya mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya melahirkan anak-anak cerdas dan kompeten, tetapi juga memiliki karakter serta nurani yang baik.
Melki juga mendorong agar sekolah di NTT tidak berhenti pada pencapaian akademik. Sekolah harus menjadi ruang tumbuh bagi karakter, kreativitas, inovasi dan kemandirian peserta didik.
Ia menginginkan setiap sekolah memiliki budaya akademik yang baik sekaligus mampu mengembangkan praktik kewirausahaan.
Menurutnya, sekolah idealnya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mendorong peserta didik mengenali potensi di sekitarnya, menghasilkan karya dan memahami nilai ekonomi dari sebuah produk.
Karena itu, ia berharap setiap sekolah setidaknya memiliki satu produk unggulan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemprov NTT yang sebelumnya mendorong program One School One Product (OSOP) sebagai bagian dari penguatan pendidikan produktif. Dalam arahannya saat pelantikan 104 kepala SMA, SMK dan SLB pada Maret 2026, Melki juga menekankan pentingnya kepala sekolah menjadi agen perubahan dan membangun budaya kerja profesional di lingkungan sekolah.
Penguatan kepemimpinan sekolah menjadi semakin penting karena pemerintah daerah tidak hanya membutuhkan kepala sekolah yang mampu menjalankan administrasi, tetapi juga pemimpin yang mampu membaca tantangan pendidikan dan menerjemahkannya menjadi program nyata.
Pada Maret 2026, ketika melantik 104 kepala SMA, SMK dan SLB, Gubernur Melki menegaskan bahwa kepala sekolah harus menjadi pemimpin pembelajaran, agen perubahan dan penggerak inovasi. Pemerintah Provinsi NTT juga menempatkan kinerja dan integritas sebagai bagian penting dalam kepemimpinan sekolah.
Sementara itu, upaya memperkuat budaya belajar juga telah menjadi bagian dari kebijakan pendidikan NTT melalui Gerakan Jam Belajar Masyarakat yang diatur dalam Pergub NTT Nomor 24 Tahun 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus memperkuat karakter generasi muda.
Dengan berbagai kebijakan tersebut, para peserta diklat diharapkan mampu menjadi bagian dari mata rantai perubahan pendidikan di NTT.
Melki berharap para calon kepala sekolah nantinya mampu menjadikan sekolah sebagai tempat bertumbuhnya generasi yang cerdas, kompeten, berkarakter dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
“Sekolah harus menjadi tempat bertumbuhnya anak-anak yang cerdas dan berkompeten serta memiliki nurani yang baik,” pesannya.
Sebanyak 158 guru yang mengikuti diklat tersebut kini berada pada tahap penting untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin satuan pendidikan.
Harapannya, dari proses tersebut lahir kepala-kepala sekolah yang tidak hanya mampu mengelola sekolah, tetapi juga berani melakukan perubahan, mengembangkan potensi peserta didik, meningkatkan kualitas guru dan membawa sekolah menjadi pusat pembelajaran, karakter serta kewirausahaan.
Dengan demikian, investasi terbesar pendidikan NTT bukan hanya pada pembangunan gedung dan fasilitas, tetapi juga pada kualitas manusia yang diberi tanggung jawab memimpin sekolah.*
Stop Copas!!
Tidak ada komentar