WhatsApp Channel Banner

Melki Laka Lena Kenang Gonzalo Muga Sada: Pemimpin yang Memilih Turun, Bukan Sekadar Duduk di Kursi Jabatan

waktu baca 6 menit
Minggu, 4 Okt 2026 08:56 0 52 Times NTT

KUPANG, TIMES NTT – Kepergian Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, bagi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, kehilangan Gonzalo bukan semata-mata tentang berpulangnya seorang pejabat daerah. Lebih dari itu, NTT kehilangan sosok pemimpin yang dikenal pekerja keras, sederhana, humoris, dan tidak pernah menjadikan jabatan sebagai batas untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Kenangan tersebut disampaikan Melki dari Rumah Jabatan Gubernur NTT, Minggu (4/10/2026), melalui pesan WhatsApp.

Di mata Melki, Gonzalo merupakan pribadi yang autentik. Ia tidak berusaha membangun citra sebagai pejabat yang selalu tampil formal, melainkan hadir sebagai dirinya sendiri, terbuka dalam berbicara, mudah bergaul, serta berani menyampaikan pendapat tanpa dibuat-buat.

“Beliau itu orang yang pekerja keras, humoris, sifatnya akrab, dan orangnya apa adanya dalam menyampaikan sesuatu. Entah itu usul, saran, aspirasi, atau apa saja yang menurutnya penting untuk dilakukan atau diperbaiki,” kenang Melki.

Karakter itulah yang membuat Gonzalo memiliki tempat tersendiri dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja dan berinteraksi dengannya.

Bagi Melki, keistimewaan seorang pemimpin tidak selalu terlihat dari jabatan yang disandang atau seberapa besar kewenangan yang dimiliki. Justru, nilai kepemimpinan sering kali tampak dari kesediaan seseorang mendengarkan, menyampaikan kebenaran, dan hadir tanpa menciptakan jarak dengan orang lain.

Gonzalo, menurutnya, adalah gambaran pemimpin yang tidak kehilangan jati diri di tengah kekuasaan.

Dari Posko Gempa hingga Kampung Terpencil

Salah satu kenangan paling membekas bagi Melki adalah keterlibatan Gonzalo dalam penanganan bencana gempa bumi di Kabupaten Nagekeo.

Saat itu, Gonzalo dipercaya sebagai Ketua Posko Penanganan Gempa Nagekeo. Tanggung jawab tersebut tidak hanya dijalankan melalui koordinasi pemerintahan, tetapi juga dengan turun langsung menemui masyarakat terdampak.

Melki mengaku telah lebih dari empat kali mengunjungi Nagekeo dan menyaksikan sendiri bagaimana Gonzalo bekerja di lapangan.

Di tengah kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan, Gonzalo tidak memilih tinggal di balik meja. Ia justru mendatangi kampung-kampung, termasuk wilayah yang sulit dijangkau, untuk memastikan bantuan dan kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan warga.

“Di kampung-kampung yang sulit pun beliau turun sendiri. Masuk di berbagai tempat yang sulit tersebut, membawa bantuan, memastikan pemerintah hadir, dan terus memberikan dukungan bagi masyarakat,” ujar Melki.

Baca Juga  IKTL Flotim Miliki BLK Multimedia 

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari kepemimpinan Gonzalo.

Di saat masyarakat menghadapi kesulitan, ia memilih berada di tengah mereka. Bukan sekadar memastikan laporan penanganan bencana tersusun, melainkan melihat langsung kebutuhan warga dan mendorong agar bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Bagi Melki, pengabdian semacam itu merupakan bagian penting dari makna seorang pemimpin.

Jabatan, pada akhirnya, bukan tentang seberapa tinggi seseorang berada, tetapi seberapa besar kesediaannya turun ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Kisah Naik Bus yang Membekas di Ingatan Melki

Ada pula cerita sederhana yang justru memperlihatkan karakter Gonzalo dalam kehidupan politik.

Melki mengenang pengalaman ketika Gonzalo, yang saat itu menjabat Ketua PAN Provinsi NTT, menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) PAN di Kabupaten Manggarai Barat.

Alih-alih menggunakan kendaraan mewah atau fasilitas khusus sebagaimana lazimnya seorang elite partai, Gonzalo memilih menggunakan bus untuk menuju lokasi kegiatan.

Bagi Melki, peristiwa tersebut bukan sekadar cerita perjalanan, melainkan gambaran tentang kesederhanaan seorang pemimpin yang tidak merasa perlu membangun keistimewaan hanya karena jabatan.

“Waktu itu saya senang sekali mendengarkan cerita bagaimana beliau sebagai Ketua PAN Provinsi bisa naik mobil bus ke Musda di Manggarai Barat dan turun dari bus. Betul-betul seperti seorang pemimpin politik yang apa adanya,” tutur Melki.

Cerita itu memperkuat kesan bahwa Gonzalo merupakan sosok yang tidak dibuat-buat.

Ia dapat berbicara tentang politik, pemerintahan, olahraga, maupun persoalan masyarakat dengan gaya yang terbuka dan spontan.

“Orang yang sangat orisinil, apa adanya. Kita semua berduka. Masyarakat Nagekeo berduka, masyarakat NTT berduka. Kita kehilangan salah satu tokoh hebat di Nagekeo,” kata Melki.

Mimpi Besar untuk Olahraga Nagekeo

Di luar aktivitas pemerintahan dan politik, Gonzalo juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan olahraga di Kabupaten Nagekeo.

Sebagai Ketua KONI Nagekeo yang baru terpilih, ia memiliki harapan menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu lumbung atlet NTT untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON).

Harapan itu menjadi bagian dari cita-cita besarnya bagi kemajuan daerah.

Gonzalo tidak hanya melihat olahraga sebagai aktivitas kompetisi, tetapi juga sebagai ruang pembinaan generasi muda dan kesempatan bagi putra-putri Nagekeo untuk menunjukkan kemampuan di tingkat yang lebih tinggi.

Kepergiannya kini menyisakan pekerjaan rumah bagi mereka yang melanjutkan kepemimpinan dan pembinaan olahraga di Nagekeo.

Namun, gagasan dan semangat yang pernah ia bangun masih memiliki kesempatan untuk diteruskan.

Melki: Gonzalo dan Bupati Nagekeo Seperti Kakak-Adik

Dalam perjalanan pemerintahan Kabupaten Nagekeo, Gonzalo juga disebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Bupati Nagekeo.

Melki menggambarkan hubungan keduanya seperti kakak dan adik. Kedekatan itu terlihat ketika mereka bersama-sama menghadapi berbagai persoalan daerah, termasuk saat penanganan gempa di wilayah Mauponggo.

Baca Juga  Jemput Asa di Pulau Sumba, Tiga Hari tanpa Henti

“Waktu penanganan gempa Mauponggo juga saya lihat bergerak bersama Pak Bupatinya, luar biasa. Beliau memang sama dengan Pak Bupati itu seperti adik-kakak. Saya lihat akrab sekali mereka berdua untuk membangun Nagekeo,” ungkap Melki.

Bagi Melki, kebersamaan tersebut menjadi gambaran bahwa membangun daerah tidak cukup hanya mengandalkan aturan, anggaran, dan kewenangan formal.

Dibutuhkan kepercayaan, komunikasi, serta kesediaan untuk bekerja bersama, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.

Kedekatan Gonzalo dengan Bupati Nagekeo menjadi salah satu bagian dari kenangan yang kini ditinggalkan kepada jajaran pemerintah daerah dan masyarakat.

Kepergian Mendadak, Duka yang Mendalam

Kepergian Gonzalo terjadi secara mendadak. Berdasarkan informasi awal yang diterima Melki, almarhum diduga mengalami kelelahan yang kemudian berkaitan dengan serangan jantung.

Kabar tersebut tentu menjadi pukulan bagi keluarga, kerabat, rekan kerja, serta masyarakat Nagekeo yang mengenalnya.

Sosok yang sebelumnya masih aktif menjalankan tugas pemerintahan dan pengabdian kini telah berpulang.

Bagi Melki, kehilangan ini bukan hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh masyarakat Nagekeo dan NTT secara luas.

Ia pun menyampaikan penghormatan terakhir sekaligus doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.

“Sekali lagi kita sangat kehilangan dan saya berharap agar Pak Wakil Bupati, Pak Gonzalo dilapangkan jalan ke surga, diampuni segala dosa dan kesalahannya, diterima amal perbuatannya yang baik,” ujar Melki.

Ia juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan, Bupati Nagekeo, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Nagekeo, serta masyarakat agar diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi kehilangan tersebut.

Melki berharap semangat pengabdian Gonzalo tidak berhenti bersama kepergiannya.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan, Pak Bupati dan seluruh jajaran Pemda dan masyarakat Nagekeo, kita semua bisa terus melanjutkan perjuangan dan juga semangat yang sudah beliau berikan bagi kita semua,” tutupnya.

Kepergian Gonzalo menyisakan satu pelajaran tentang arti pengabdian: seseorang tidak selalu dikenang karena berapa lama ia memegang jabatan, tetapi karena apa yang dilakukannya ketika jabatan itu dipercayakan kepadanya.

Dari kampung-kampung terdampak gempa, perjalanan menggunakan bus menuju agenda politik, hingga cita-citanya membangun olahraga Nagekeo, tersimpan cerita tentang seorang pemimpin yang memilih tetap sederhana di tengah tanggung jawab besar.

Gonzalo telah pergi, tetapi jejak pengabdiannya masih tertinggal.

Dan bagi mereka yang pernah menyaksikan bagaimana ia bekerja, kesederhanaan, keberanian berbicara apa adanya, serta kepeduliannya terhadap masyarakat akan menjadi kenangan yang tidak mudah hilang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!