Kadis pendidikan NTT buat konten jalan kaki/foto: tangkap layarKupang, Timesntt.com– Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo ramai Di rujak warganget.
Komentar dan kritik pedas warganet itu bermula saat konten Kadis Ambros jalan kaki sepulang jam kerja viral di media sosial.
Video berdurasi kurang lebih dua menit itu diunggah oleh beberapa akun Facebook. Yang paling ramai menjadi sorotan adalah pada unggahan akun Facebook NTT News.com.
Video yang diunggah pada Rabu 24 Juni itu mendapat 8000 suka dan 600 komentar. Dalam video tersebut kadis pendidikan terlihat mengenakan topi hitam, memakai tas ransel, berbaju kaus dan berjalan di pinggir jalan.
“Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT tinggalkan mobil di kantor dan memilih berjalan kaki saat pulang ke rumah, hal ini dilakukan untuk melaksanakan perintah pimpinannya,” tulis akun NTT news, pada unggahannya disadur Timesntt.com.
Konten ini kemudian mendapat reaksi beragam warganget. Sebagian besar malah memberikan kritik pedas.
Akun Alle Rope menulis ,”Buat sensasi biar viral,”.
Sementara akun Indra Trisna menulis ‘Film judul apa. Biar like kasih naek volume biar terpilih di panasonic award’ di kolom komentar.
“Untuk apa ber pencitraan lebih bagus keberpihakan. Jgn but diri namba dosa, bos. Provinsi terbelakang ke 03 adalah NTT. Jgn menghemat karena diperintah tapi menghemat atas kesadaran,” sindir akun Koten David.
“Pencitraan saja agar publik tau bahwa mereka hebat BBM,” tulis akun No Na.
Akun Renal Jenderal Rote menulis ,”Nanti uang bbm sonde terpakai habis krmn sudah? Trus uang service kendaraan juga snd terpakai karena oto sonde (tidak) pernah jalan ada-ada saja pejabat di NTT punya inovasi ni,”.
Konten Viral Kadis Usai Orang Tua Protes Seleksi Online SPMB
Video Kepala Dinas Pendidikan NTT itu menjadi ramai diperbincangkan warganet usai beberapa orang tua melayangkan protes terkait proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA dan SMK di Kota Kupang kembali menuai sorotan.
Sejumlah orang tua calon siswa meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaudit operator sekolah setelah kuota di beberapa sekolah negeri dilaporkan penuh hanya dalam hitungan menit sejak pendaftaran dibuka.
Salah satu wali siswa di Kota Kupang, Anita Amtiran (52), menilai pengisian kuota yang hanya berlangsung dalam waktu 2-3 menit tidak rasional.
“Kami sudah menunggu lama, semua dokumen sudah siap. Tapi saat sistem dibuka, kuotanya langsung penuh. Kami tidak tahu bagaimana prosesnya bisa secepat itu,” kata Anita, melansir Detik.com.
Selain itu, Anita menegaskan KPK semestinya tidak hanya memantau pelaksanaan SPMB, tetapi juga mengawasi operator sekolah.
“Kalau bilang sekarang pengawasan langsung dari KPK, maka harus diawasi semua dengan itu operator sekolah. Jangan hanya 2-3 menit, portal yang dibuka tiba-tiba langsung dibilang penuh. Ini ada apa,” tandasnya.
Ia juga mendesak pemerintah dan DPRD NTT melakukan audit terhadap mekanisme pendaftaran serta mempublikasikan data penerimaan secara terbuka.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat dan memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah akibat sistem yang dinilai tidak jelas.
“Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi pemerintah perlu menjelaskan kepada masyarakat bagaimana kuota itu terisi. Kalau memang semuanya berjalan sesuai aturan, publik berhak mengetahui prosesnya secara terbuka, apalagi ada fungsi pengawas dari KPK,” ujarnya.
“Pendidikan adalah hak setiap anak. Karena itu, proses penerimaan murid baru harus berlangsung jujur, adil, dan transparan,” tambah Anita.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) NTT Ambrosius Kodo menegaskan tidak ada permainan dalam proses SPMB Tahun Ajaran 2026-2027.
“SPMB dan PPDB online, saya kira sudah berlangsung 4-5 tahun. Dan bukan hal yang baru soal ini. Saya menegaskan tidak ada permainan dalam proses SPMB,” kata Ambros.
Ambros menjelaskan kuota dapat cepat penuh karena ratusan siswa melakukan pendaftaran ke sekolah tujuan pada waktu yang bersamaan, sementara daya tampung yang tersedia terbatas.
“Mungkin pada saat bersama ratusan siswa mendaftarkan diri, kuota contohnya 40, ya penuh, kan begitu,” ujarnya.
Untuk mengurai antrean, Disdikbud NTT membagi waktu pendaftaran menjadi sesi pagi dan sesi siang. Ambrosius menyebut hasil simulasi menunjukkan proses pendaftaran dapat dilakukan hanya dalam waktu 27 detik.
“Jadi tidak ada yang ditutupi di situ,” pungkasnya.*
|
Stop Copas!!
Tidak ada komentar