WhatsApp Channel Banner

Puskesmas Oebobo Skrining 771 Orang Berisiko HIV, 230 ODHIV Jalani Pengobatan

waktu baca 2 menit
Sabtu, 26 Sep 2026 03:45 0 20 Times NTT

Kupang, Timesntt.com-Puskesmas Oebobo terus memperkuat upaya deteksi dini dan pelayanan bagi masyarakat yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS.

Hingga Agustus 2026, sebanyak 771 orang berisiko telah menjalani skrining HIV di Puskesmas Oebobo. Sementara itu, tercatat 230 orang dengan HIV (ODHIV) sedang menjalani pengobatan.

Plt. Kepala Puskesmas Oebobo, dr. Maria Fransiska Febriyanti Kopong, mengatakan skrining dilakukan terhadap populasi berisiko, termasuk populasi kunci dan masyarakat yang dinilai membutuhkan pemeriksaan.

Menurutnya, pelayanan skrining juga terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sehingga jangkauan pemeriksaan dapat diperluas.

“Kita sampai dengan September melakukan skrining kepada populasi yang berisiko atau populasi kunci dan masyarakat sekitar. Jumlahnya sekitar 700-an orang,” kata Maria.

Puskesmas Oebobo juga menyediakan obat bagi ODHIV yang menjalani pengobatan. Dengan demikian, pasien tidak harus diarahkan untuk mengambil obat ke rumah sakit.

Baca Juga  Kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Oebobo Menurun, Baru Tiga Kasus hingga September

Maria memastikan ketersediaan obat HIV/AIDS di Puskesmas Oebobo hingga saat ini tidak mengalami kendala.

“Untuk stok obat-obatannya juga tersedia,” ujarnya.

Dalam memberikan pelayanan, Puskesmas Oebobo bekerja sama dengan sejumlah komunitas dan lembaga yang berkaitan dengan penanggulangan HIV/AIDS.

Kerja sama tersebut dinilai penting karena komunitas memiliki kedekatan dengan kelompok yang menjadi sasaran skrining sehingga edukasi dan ajakan untuk melakukan pemeriksaan lebih mudah diterima.

Maria mengatakan sebagian masyarakat memilih melakukan pemeriksaan HIV di Puskesmas Oebobo karena merasa nyaman dengan petugas dan sistem pelayanan yang menjaga privasi pasien.

Pelayanan HIV/AIDS juga ditempatkan secara terpisah dari poli umum untuk menjaga kenyamanan dan privasi pasien.

“Kalau HIV langsung di sebelah sini, tidak bergabung. Karena kita melihat privasinya,” jelasnya.

Baca Juga  Program Bedah Rumah Sentuh Warga Kurang Mampu di Kota Kupang

Selain masyarakat yang datang secara mandiri, petugas juga melakukan penjangkauan terhadap pasien yang ditemukan memiliki faktor risiko, termasuk melalui pelayanan ibu hamil maupun pasien yang datang ke poli lainnya.

Maria mengakui masih terdapat masyarakat, termasuk dari kelompok berisiko, yang enggan menjalani pemeriksaan. Karena itu, edukasi terus dilakukan secara rutin.

Menurutnya, keterlibatan komunitas menjadi salah satu pendekatan penting agar masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan.

“Paling bagus kerja samanya dengan komunitas. Kalau mereka yang menjelaskan, lebih gampang diterima. Sejauh ini dari komunitas biasanya teman mereka sendiri yang membawa untuk datang periksa,” katanya.

Ia mengajak masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk tidak menunda pemeriksaan. Deteksi dini, menurutnya, penting agar seseorang yang terinfeksi HIV dapat segera mendapatkan pendampingan dan pengobatan.*

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!