ADVERTORIAL | TIMESNTT.COM

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA

ADVETORIAL: PENJAGA PERADABAN – BUDAYA, HUKUM, DAN KETAHANAN MASA DEPAN

Dari Abu Manola hingga Posbankum, Climate Hackathon, dan Batalyon Ketahanan Pangan: SBD Merawat Adat, Menegakkan Keadilan, Menatap Masa Depan

Oleh: Tim Advetorial Timesntt.com | Tambolaka, Sumba Barat Daya

 

Advetorial: Penjaga Peradaban - Budaya, Hukum, Dan Ketahanan Masa Depan
Advetorial: Penjaga Peradaban – Budaya, Hukum, Dan Ketahanan Masa Depan

TAMBOLAKA – Ketika api melahap Kampung Adat Manola, banyak yang mengira kisah tentang salah satu kampung adat tertua di Sumba Barat Daya itu akan berakhir. Kayu-kayu tua yang diukir dengan motif Marapu, rumah adat yang menyimpan cerita leluhur, ludes. Namun pada Festival Budaya Manola 2025, Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonnu Wulla, ST menjadi figur sentral yang tidak hanya hadir dalam acara seremonial kebudayaan, tetapi terjun langsung memulihkan kembali identitas masyarakat adat Manola setelah tragedi besar melanda.

Masyarakat Manola menyebut Bupati Ratu sebagai ‘penjaga peradaban’. Sebutan itu bukan hiperbola. Di bawahnya, Pemerintah Kabupaten SBD mencanangkan visi besar: revitalisasi 20 Rumah Adat pada 2026. Pemerintah akan melanjutkan revitalisasi rumah adat Manola melalui pengajuan anggaran dan kolaborasi dengan pemerintah pusat dan donatur budaya. Budaya bukan sekadar tontonan festival, tetapi benteng identitas. Festival Manola bukan sekadar pesta, tetapi pernyataan bahwa SBD tidak akan membiarkan peradabannya hilang oleh api.

Di saat yang sama, peradaban juga dijaga lewat hukum. Pada 19 Februari 2026, di Aston Kupang Hotel and Convention Center, Bupati Ratu Ngadu Bonu Wulla secara resmi menerima penghargaan bergengsi dari Menteri Hukum Republik Indonesia atas keberhasilan pembentukan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) di wilayah SBD. Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat. Penghargaan ini diberikan karena SBD dinilai berhasil menghadirkan akses keadilan hingga ke tingkat desa.

Posbankum adalah jawaban atas keluhan klasik warga miskin di SBD yang sering kali takut berurusan dengan hukum karena biaya. Kini, di setiap kecamatan, ada Posbankum yang didampingi paralegal dan advokat yang difasilitasi Pemkab. Sengketa tanah adat, KDRT, sengketa waris, hingga kasus ketenagakerjaan bisa dikonsultasikan gratis. Bupati yang sebelumnya juga telah meraih UHC Award 2026 dan Pos Kupang Award ini menegaskan bahwa hukum harus hadir untuk yang lemah.

Penjaga peradaban juga berarti penjaga masa depan iklim. Pada 12 Desember 2025, Wakil Bupati Dominikus A.R. Kaka membuka Climate ED-Hackathon di lantai 8 Hotel Sima, Tambolaka. Acara kolaboratif bertajuk ‘Penciptaan Bersama materi pembelajaran Climate ed-hackathon sekolah pesisir yang berpusat pada anak-anak responsif gender dan inklusif disabilitas’ itu diselenggarakan bersama Save the Children Indonesia dan Genre-CIS. Diikuti 30 tim guru, mahasiswa, aktivis disabilitas, dan praktisi teknologi pendidikan, hackathon ini menargetkan penciptaan kurikulum adaptasi iklim lokal: cara adaptasi masyarakat pesisir Sumba terhadap kenaikan permukaan laut, pengamanan sumber air, dan perlindungan ekosistem bakau, serta aksesibilitas penuh dalam format visual, audio deskriptif, dan cetak besar.

Baca Juga  HUT Ke-81 TNI di Sumba Barat Daya, Pemkab Tegaskan Sinergi Militer dan Daerah untuk Pembangunan Warga

‘Sumba Barat Daya adalah wilayah kepulauan dengan risiko iklim yang tinggi. Kompetisi ini bukan hanya ajang lomba, tetapi upaya serius kita untuk menghasilkan kurikulum yang berpihak pada anak-anak dan dapat langsung digunakan oleh sekolah-sekolah di pesisir,’ tegas Dominikus. Ia menekankan materi harus responsif gender dan inklusif disabilitas. Hasilnya diharapkan menjadi prototipe kurikulum resmi yang diadopsi Pemda untuk memperkuat resiliensi pendidikan SBD.

Advetorial: Penjaga Peradaban - Budaya, Hukum, Dan Ketahanan Masa Depan, Dari Abu Manola hingga Posbankum, Climate Hackathon, dan Batalyon Ketahanan Pangan: SBD Merawat Adat, Menegakkan Keadilan, Menatap Masa Depan
Advetorial: Penjaga Peradaban – Budaya, Hukum, Dan Ketahanan Masa Depan, Dari Abu Manola hingga Posbankum, Climate Hackathon, dan Batalyon Ketahanan Pangan: SBD Merawat Adat, Menegakkan Keadilan, Menatap Masa Depan

Masa depan pangan juga disiapkan dengan langkah militer-sipil yang unik. Pada 5 November 2025, Bupati Ratu Ngadu B. Wulla didampingi Sekda SBD, Dandim 1629/SBD, dan pimpinan OPD mengunjungi lokasi calon lahan pembangunan Batalyon TP Ketahanan Pangan di Desa Umbu Wango, Wewewa Selatan. Batalyon TP atau Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) adalah konsep baru TNI untuk mendukung ketahanan pangan. Masyarakat pemilik lahan dari tiga desa – Umbu Wango, Mila Ate, dan Maghu Ate secara sukarela menyerahkan aset tanah mereka kepada Pemda untuk dijadikan lokasi transmigrasi dan lahan pangan. Kepala ATR/BPN SBD memastikan legalitas lahan segera diselesaikan, KPH memastikan kelestarian lingkungan terjaga. ‘Hari ini adalah hari bersejarah. Keikhlasan Bapak/Ibu sekalian adalah kunci pembuka bagi peningkatan kesejahteraan,’ ujar Bupati Ratu.

Ketahanan pangan juga diwujudkan lewat Program Bioetanol Nasional. Pada 7 Oktober, Bupati Ratu meninjau 223 hektar lahan jagung di Desa Mawodana, Wewewa Timur untuk program cetak dan olah lahan jagung. Ini tindak lanjut Rapat Koordinasi Gerakan Tanam Jagung dan Ubi Kayu untuk Dukungan Program Energi Terbarukan. SBD menyiapkan diri menjadi lumbung pangan dan energi terbarukan.

Di ranah spiritual dan sosial, Bupati Ratu juga hadir. Pada 14 Desember 2025, ia hadir sebagai juri kehormatan lomba menghias pohon Natal di GKS Jemaat Waikelo, menekankan pentingnya toleransi antarumat beragama dan menjadikan Natal di SBD sebagai bagian dari wisata rohani. Pada 11 Desember 2025, ia memimpin ibadah syukur pemekaran dua jemaat besar GKS, GKS Iya Ate dan GKS Puu Kadokke yang dirangkaikan dengan pentahbisan pendeta. ‘Pemekaran ini bukan hanya menambah jumlah gereja, tetapi juga menambah pusat-pusat pembinaan karakter dan moral yang akan menjadi mitra utama Pemerintah dalam menanggulangi berbagai persoalan sosial, seperti stunting, kemiskinan, dan pendidikan etika anak bangsa,’ ujarnya.

Baca Juga  Perluas Akses Kesehatan, Pemkab SBD dan PT Kalbe Farma Bersinergi Lewat Cek Kesehatan Gratis dan Bantuan Insulin

Semua ini menunjukkan bahwa pembangunan di bawah Ratu-Angga tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual, kultural, dan ekologis. Dari abu Manola yang dibangun kembali, Posbankum yang memberi keadilan, hackathon iklim yang inklusif, hingga batalyon pangan yang menjaga kedaulatan pangan, SBD merawat peradaban sambil menatap masa depan.

Kerja sama dengan PT Tree Story Korea pada 6 Juli 2025 juga menjadi bagian dari peradaban masa depan. MoA yang ditandatangani Bupati Ratu dan MooRyong Cho berfokus pada pengembangan investasi berkelanjutan dengan memanfaatkan inovasi. SBD membuka diri untuk dunia, tetapi dengan tetap menjaga adat dan kelestarian.

Secara Kompas.id, SBD di bawah Ratu-Angga adalah contoh daerah yang tidak terjebak dalam dikotomi tradisi versus modernitas. Mereka justru menyatukannya. Rumah adat Manola dibangun kembali dengan teknik tradisional tetapi dengan manajemen risiko kebakaran modern. Posbankum menggunakan hukum positif negara untuk melindungi hukum adat. Kurikulum iklim menggunakan pengetahuan lokal pesisir Sumba untuk menjelaskan perubahan iklim global. Batalyon pangan menggunakan pendekatan militer modern untuk mengolah lahan dengan kearifan lokal.

Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla yang pernah menjadi Ketua PKK memahami betul bahwa peradaban dimulai dari keluarga dan kampung. Wakil Bupati Dominikus Alphawan Rangga Kaka yang juga aktif di kegiatan kepemudaan dan olahraga seperti membuka Turnamen Cup Camat Kodi Balaghar 2026 pada 17 Juli 2026 untuk HUT RI ke-81 memahami bahwa peradaban harus dirayakan. Duet ini melengkapi.

Akhirnya, penghargaan Posbankum dari Menteri Hukum, Pos Kupang Award, UHC Award, dan DAK terbaik adalah pengakuan eksternal. Namun pengakuan terpenting datang dari masyarakat Manola yang menyebut Bupati sebagai penjaga peradaban. Karena peradaban bukan soal piala, tetapi soal apakah anak cucu masih bisa melihat rumah adat berdiri, masih bisa mendapat keadilan gratis, masih bisa belajar tentang iklim dengan bahasa mereka sendiri, dan masih bisa makan dari tanah mereka sendiri. Dan di SBD, semua itu masih ada, bahkan semakin kuat.

Penjaga peradaban adalah gelar yang berat, tetapi Ratu-Angga memikulnya dengan kerja nyata. Dari Wewewa Selatan hingga Kodi Balaghar, dari Tambolaka hingga Manola, jejak pembangunan yang berakar pada budaya, berlandaskan hukum, dan berorientasi masa depan terlihat jelas. Sumba Barat Daya kini tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan pantai yang indah, tetapi sebagai daerah dengan kebijakan yang indah: kebijakan yang menjaga manusia dan kemanusiaannya.***