WhatsApp Channel Banner

Kasus DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Oebobo Menurun, Baru Tiga Kasus hingga September

waktu baca 2 menit
Jumat, 25 Sep 2026 04:44 0 23 Times NTT

Kupang, Timesntt.com-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas Oebobo, Kota Kupang, menunjukkan penurunan dibandingkan dua tahun sebelumnya.

 

Plt. Kepala Puskesmas Oebobo, dr. Maria Fransiska Febriyanti Kopong, mengatakan hingga September 2026 tercatat tiga kasus DBD yang diketahui melalui data dari rumah sakit.

 

“Untuk tahun ini kita mengalami penurunan. Biasanya banyak di awal-awal tahun karena musim penghujan, tetapi sampai sekarang untuk Demam Berdarah kita baru tiga kasus,” kata Maria.

 

Baca Juga  Vaksinasi Rabies Tuntas, Kelurahan Naikolan Sasar Anjing dari Rumah ke Rumah

Selain tiga kasus DBD, terdapat tujuh kasus demam dengue yang tidak berkembang menjadi DBD.

 

Menurut Maria, dalam beberapa pekan terakhir, termasuk satu minggu terakhir, pihaknya hampir tidak menemukan pasien yang dicurigai mengarah pada DBD maupun demam dengue di pelayanan Puskesmas Oebobo.

 

Ia menilai penurunan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa program penanganan yang dilakukan sejak akhir 2024 dan mulai efektif pada 2025 memberikan dampak positif.

 

“Kalau dihubungkan dengan program awal, harusnya ini ada efek. Efeknya sangat baik,” ujarnya 24/09.

 

Maria menjelaskan, evaluasi terhadap perkembangan kasus tetap dilakukan dengan memperhatikan pola tahunan DBD yang biasanya meningkat ketika memasuki musim penghujan.

 

Namun hingga September 2026, jumlah kasus yang tercatat masih relatif rendah dibandingkan periode sebelumnya.

 

Baca Juga  Setahun Berjalan, Dana Gawat Darurat Rp3 Miliar RSUD S.K. Lerik Terpakai Rp900 Juta

“Kalau dari data yang saya bisa memastikan adalah jumlah penurunannya. Biasanya kita lihat di akhir tahun dimulai musim penghujan dengan awal tahun. Penurunannya memang lumayan banyak,” jelasnya.

 

Puskesmas Oebobo juga terus melakukan koordinasi dalam pelaksanaan program pencegahan dan penanganan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti tersebut.

 

Upaya pencegahan dilakukan dengan tetap mendorong masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki musim penghujan.

 

Maria berharap tren penurunan kasus tersebut dapat dipertahankan melalui kolaborasi antara petugas kesehatan dan masyarakat.

 

Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada pelayanan ketika masyarakat sudah sakit, tetapi juga pada upaya pencegahan sejak dari lingkungan tempat tinggal.*

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Stop Copas!!