“Potensi lahan dan komoditas unggulan kita, khususnya jagung dan ubi kayu, kini tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan lokal, tetapi juga dituntut untuk mampu memenuhi pasokan bahan baku industri energi terbarukan [bioetanol],” tegasnya.
TAMBOLAKA, TIMESNTT.COM — Transformasi ekonomi daerah berbasis pertanian tidak lagi sebatas menjaga ketahanan pangan lokal, melainkan mulai merambah sektor strategis kedaulatan energi nasional. Potensi komoditas unggulan wilayah kepulauan kini digerakkan untuk memasok bahan baku industri energi terbarukan ramah lingkungan.
Langkah strategis tersebut resmi dimulai tatkala Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, S.T., membuka secara resmi Rapat Koordinasi Gerakan Tanam Jagung dan Ubi Kayu untuk Dukungan Program Energi Terbarukan (Bioetanol) di Ro’o Luwa Cafe and Resto, Desa Weelonda, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Rabu (7/10/2026).
Rapat koordinasi lintas sektor ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Kapolres Sumba Barat Daya, Dandim 1629/SBD, Sekretaris Daerah SBD, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala desa, kepala tim kerja beserta tim penyuluh, dan seluruh koordinator penyuluh pertanian se-Kabupaten SBD.
Dalam pidato pembukaannya, Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonnu Wulla memaparkan bahwa program besar ini merupakan buah dari diplomasi dan koordinasi intensif yang telah dibangun pemerintah daerah di tingkat pusat.
“Rapat koordinasi pada hari ini merupakan langkah konkrit dan tindak lanjut dari hasil pertemuan serta koordinasi kami bersama Menteri Pertanian RI pada tanggal 21 September 2026 yang lalu di Jakarta. Pertemuan tersebut membahas peluang besar dan strategis bagi daerah kita, yaitu keterlibatan Kabupaten SBD dalam program energi terbarukan berbasis bahan baku bioetanol yang bersumber dari jagung dan ubi kayu,” ujar Ratu Ngadu Bonnu Wulla di hadapan para peserta rapat.
Bupati menegaskan, kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada Sumba Barat Daya untuk menjadi salah satu pilar pendukung kedaulatan energi nasional harus disambut dengan kesiapan infrastruktur pertanian dari hulu ke hilir.
“Potensi lahan dan komoditas unggulan kita, khususnya jagung dan ubi kayu, kini tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan lokal, tetapi juga dituntut untuk mampu memenuhi pasokan bahan baku industri energi terbarukan [bioetanol],” tegasnya.
Optimalisasi Komoditas Lokal dan Potensi Jambu Mente
Selain komoditas utama berupa jagung dan ubi kayu yang menjadi basis produksi bioetanol, Bupati juga menyoroti potensi komoditas lokal lain yang selama ini belum tergarap optimal, yakni tanaman jambu mente. Menurutnya, pemanfaatan hasil pertanian di SBD harus dilakukan secara menyeluruh tanpa menyisakan limbah yang terbuang percuma.
“Selama ini, masyarakat dan petani kita umumnya hanya memanfaatkan kacang mentenya saja, sementara buah jambu mente sering kali terbuang menjadi limbah. Ini menjadi ruang pengembangan ekonomi kreatif ke depan yang harus kita optimalkan bersama,” ungkap Ratu Wulla.
Guna memastikan rantai pasok industri bioetanol berjalan sukses tanpa hambatan teknis, Bupati menekankan tiga poin krusial yang harus segera ditindaklanjuti oleh seluruh perangkat daerah dan penyuluh di lapangan:
(1) Pemetaan lahan dan kesiapan petani secara komprehensif di setiap wilayah kecamatan. (2) Pendampingan teknis intensif dari tim penyuluh agar hasil produksi komoditas memenuhi standar kualifikasi industri bioetanol. (3) Sinergi dan keamanan lintas sektor, termasuk pelibatan aktif jajaran TNI dan Polri dalam mengawal stabilitas serta kelancaran program di tingkat perdesaan.
Bupati optimistis, keberhasilan program transisi energi ini tidak hanya mencatatkan Sumba Barat Daya dalam peta energi bersih nasional, tetapi juga berimplikasi langsung pada lonjakan pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja baru, serta pergerakan roda ekonomi kerakyatan di Bumi Sumba.
“Oleh karena itu, mari kita bulatkan tekad, menyamakan persepsi, dan satukan langkah demi kemajuan pertanian serta kesejahteraan masyarakat Sumba Barat Daya yang kita cintai,” pungkasnya.
Dukungan Penuh TNI dan Polri
Sementara itu, pihak pengamanan teritorial melalui jajaran Kodim 1629/SBD dan Polres Sumba Barat Daya menyatakan komitmen penuh untuk mengawal gerakan tanam raya ini. Sinergi aparat keamanan difokuskan pada pendampingan distribusi sarana produksi pertanian, pengamanan lahan, serta memastikan stabilitas wilayah agar para petani dapat mengolah lahan dengan rasa aman dan tenang.
Melalui konsolidasi gerakan tanam jagung, ubi kayu, dan optimalisasi potensi lokal ini, Pemkab Sumba Barat Daya mantap melangkah menuju kemandirian ekonomi daerah yang terintegrasi dengan visi besar Indonesia Emas.***

Tinggalkan Balasan