“Dalam kehidupan masyarakat di Sumba, interaksi sosial-budaya terhadap hewan penular rabies—khususnya anjing dan kucing—sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai hewan peliharaan maupun penjaga rumah. Interaksi yang erat antara manusia, hewan, dan lingkungan ini menuntut kita untuk semakin bijak, tanggap, dan bertindak proaktif dalam menjaga kesehatan lingkungan serta pencegahan penyakit zoonosis,” ujar Dominikus.

 

TAMBOLAKA, TIMESNTT.COM — Status Pulau Sumba yang hingga saat ini masih terbebas dari ancaman virus rabies tidak boleh membuat seluruh pemangku kepentingan terlena. Di tengah pesatnya industri pariwisata dan eratnya relasi budaya masyarakat Sumba dengan hewan peliharaan, pengawasan pintu masuk dan analisis risiko pencegahan rabies harus diperketat secara berkesinambungan.

Langkah antisipatif tersebut ditegaskan dalam Rapat Konsultasi Pemangku Kepentingan Joint Risk Assessment (JRA) atau Penilaian Risiko Bersama Virus Rabies yang dihelat di Aula Hotel Sima, Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alphawan R. Kaka.

Forum ini menjadi wadah konsolidasi penting karena menghadirkan otoritas veteriner tingkat nasional dan regional. Turut hadir Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., perwakilan Ditkesmavet drh. Syafrison Idris, perwakilan Direktorat Kesehatan Hewan, Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar drh. I Ketut Eli Supartika, jajaran Dinas Peternakan Provinsi NTT, Team Leader Program Kita Sehat drh. Ali Rizki, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta mitra pembangunan internasional.

dalam sambutannya, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alphawan R. Kaka menggarisbawahi bahwa nama Sumba Barat Daya dan Pulau Sumba pada umumnya kini kian melambung di kancah global. Keindahan alam yang menakjubkan telah menjadikan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang makin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga  Atasi Rabies, Kelurahan Penfui Genjot Vaksin Anjing dan Kucing

Namun, di balik geliat pariwisata tersebut, terdapat realitas kebudayaan setempat yang menuntut kewaspadaan ekstra terhadap penularan penyakit zoonosis.

“Dalam kehidupan masyarakat di Sumba, interaksi sosial-budaya terhadap hewan penular rabies—khususnya anjing dan kucing—sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai hewan peliharaan maupun penjaga rumah. Interaksi yang erat antara manusia, hewan, dan lingkungan ini menuntut kita untuk semakin bijak, tanggap, dan bertindak proaktif dalam menjaga kesehatan lingkungan serta pencegahan penyakit zoonosis,” ujar Dominikus.

Ancaman Luar dan Urgensi Metode JRA

Dominikus mengingatkan, kendati Pulau Sumba saat ini memegang status berharga sebagai daerah bebas rabies, potensi benteng pertahanan itu bobol tetap ada jika pengawasan di pintu-pintu masuk seperti pelabuhan dan bandara mengendur.

“Saat ini Pulau Sumba masih dalam status bebas rabies, namun ancaman masuknya virus rabies dari luar pulau tetap nyata. Oleh karena itu, pendekatan Joint Risk Assessment (JRA) atau Penilaian Risiko Bersama ini sangat tepat dan strategis untuk dilakukan sebagai langkah pencegahan dini,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Pemkab SBD sangat menyadari kompleksitas tantangan pembangunan daerah, khususnya di sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan perlindungan lingkungan. Masalah ini tidak mungkin dituntaskan oleh pemerintah daerah seorang diri.

“Pemda SBD berkomitmen dan mendukung penuh kolaborasi serta kemitraan strategis bersama kalangan akademisi, organisasi non-pemerintah (NGO), LSM, dan mitra pembangunan internasional. Kemitraan ini kunci agar status bebas rabies di Pulau Sumba tetap terjaga abadi,” kata Wabup.

Baca Juga  Kadis Kesehatan Kota Kupang Pastikan Stok Vaksin Rabies Tersedia

Amanat Kementan dan Balai Veteriner

Sementara itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., mengapresiasi kepekaan Pemkab SBD dalam merespons ancaman zoonosis. Menurutnya, metode JRA memungkinkan seluruh instansi teknis—baik kesehatan manusia, veteriner, maupun karantina—memiliki pemetaan risiko dan standard operating procedure (SOP) penanganan yang terintegrasi.

“Pulau Sumba adalah aset nasional yang harus kita bentengi dari rabies. Melalui penerapan JRA ini, kita bersama-sama mengidentifikasi titik-titik rawan pemasukan HPR (Hewan Penular Rabies) dan menyusun skenario intervensi yang presisi sebelum ancaman itu benar-benar masuk,” ungkap Ketut Wirata.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar drh. I Ketut Eli Supartika menekankan pentingnya surveillance aktif serta kesiapan laboratorium pengujian di daerah. Pihaknya siap memberikan dukungan teknis penuh untuk memantau lalu lintas hewan dan sampel darah secara berkala.

“BBVet Denpasar siap mengawal pengujian laboratorium dan mendampingi petugas di lapangan. Pertahanan terbaik Sumba adalah pencegahan di pintu masuk dan kesiapsiagaan tanggap darurat yang padu di tingkat lokal,” ujar Ketut Eli Supartika.

Melalui rakor penentuan risiko bersama ini, Sumba Barat Daya mempertegas posisinya sebagai garda terdepan dalam menjaga Pulau Sumba tetap menjadi zona hijau yang aman bagi warga lokal maupun wisatawan dari ancaman virus rabies.***